Yogyakarta – Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), H. Misbahrudin, M.M., bersama Kepala Divisi Humas, Literasi, Sosialisasi dan Edukasi Dr. H. Nur Ahmad Ghojali, M.A., serta jajaran pengurus BWI DIY mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Wakaf Indonesia Tahun 2026 secara daring pada Rabu (15/7/2026). Rakernas yang diikuti oleh jajaran pengurus BWI Pusat, BWI Provinsi, dan BWI Kabupaten/Kota se-Indonesia tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua BWI Pusat, Prof. Dr. (Phil.) Kamaruddin Amin, M.A.
Ketua BWI DIY, H. Misbahrudin, M.M., menyampaikan bahwa keikutsertaan BWI DIY dalam Rakernas merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung kebijakan strategis BWI Pusat sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola wakaf di Daerah Istimewa Yogyakarta. "Rakernas menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antarpengurus BWI di seluruh Indonesia sehingga pengelolaan wakaf semakin produktif, profesional, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas, Literasi, Sosialisasi dan Edukasi BWI DIY, Dr. H. Nur Ahmad Ghojali, M.A., menegaskan bahwa hasil Rakernas akan menjadi acuan dalam memperkuat program literasi, edukasi, dan sosialisasi wakaf di DIY. Melalui peningkatan pemahaman masyarakat, diharapkan kesadaran berwakaf terus meningkat dan mampu mendorong lahirnya berbagai inovasi wakaf produktif yang mendukung pembangunan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Rakernas BWI Tahun 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis yang mampu memperkuat peran Badan Wakaf Indonesia sebagai lembaga yang mengembangkan perwakafan nasional secara modern, transparan, dan berkelanjutan, sehingga wakaf semakin menjadi instrumen penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (gho)

Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Kamaruddin Amin menekankan pentingnya penguatan tata kelola perwakafan nasional yang profesional, akuntabel, dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, wakaf harus terus dikembangkan sebagai instrumen pemberdayaan umat melalui inovasi pengelolaan aset, digitalisasi layanan, serta penguatan sinergi antara BWI di semua tingkatan dengan para nazhir, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan. Usai pembukaan, Rakernas dilanjutkan sidang komisi untuk hari pertama, dibagi 3 divisi dengan pemaparan agenda strategis organisasi.