Ketua BWI DIY Hadiri Panen Perdana Cluster Wakaf Green House Melon Premium. 

Ketua Badan Wakaf Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BWI DIY), H. Misbahrudin, hadiri panen perdana Cluster Wakaf Green House Melon Premium, Jum'at 4/9/2026 (22 Rabiul Awal 1448) di Tambakrejo, Semanu, Gunungkidul. Turut hadir mendampingi Mahasiswa Magang IIQ An Nur Yogyakarta, Alfi Khoirunnisa' dan Novi Hikmatunnisa.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, M.Ag., yang hadir secara langsung menegaskan pentingnya memperluas gerakan wakaf uang sebagai salah satu pilar penguatan ekonomi masyarakat.

Dokumentasi BWI


Menurutnya, wakaf tidak semestinya dipandang sebagai aktivitas yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekayaan besar. Dengan nominal yang terjangkau, masyarakat dapat ikut berwakaf dan mengambil bagian dalam membangun ekosistem ekonomi umat.

Ia mendorong aparatur di Gunungkidul untuk lebih aktif menyosialisasikan wakaf uang di berbagai lingkungan, mulai dari tempat kerja hingga tempat ibadah. Dengan sosialisasi yang lebih masif, wakaf diharapkan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan dan gaya hidup masyarakat.

Waryono juga menilai keberadaan Green House Melon Premium menunjukkan bahwa Gunungkidul memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan melalui skema wakaf produktif.

Karena itu, ia berharap model pengelolaan wakaf seperti yang dikembangkan di Semanu dapat diperluas sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pengelola, tetapi juga menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Bupati Gunungkidul dalam kata sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Rismiyadi, S.P., M.Si, memberikan apresiasi terhadap inovasi pengembangan wakaf produktif berbasis pertanian. Green House Melon Premium menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat bersinergi dengan pengelolaan wakaf. 

Dokumentasi BWI


Sementara itu, Direktur Wakaf Mulia Institute, Eko Priyanto, S.E., CWC., menjelaskan bahwa Cluster Wakaf Green House Melon Premium dikembangkan sebagai jawaban atas masih belum optimalnya pemanfaatan sejumlah aset tanah wakaf.

Melalui program tersebut, lahan yang sebelumnya belum produktif dikembangkan menjadi kawasan pertanian modern. Program ini diarahkan untuk menjadikan Gunungkidul sebagai salah satu sentra melon premium berbasis wakaf.

“Pengembangan wakaf produktif harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata sekaligus menjaga nilai kemanfaatan wakaf itu sendiri,” jelas Eko.

Terpisah Ketua BWI DIY, H.Misbahrudin menjelaskan, keberhasilan pengelolaan dan pengembangan wakaf produktif ekonomi ditopang oleh dua pilar yakni kolaborasi dan ketersediaan anggaran. Dua hal itu yang saat ini tengah dilakukan BWI DIY. Dalam upaya menghimpun wakaf uang  saat ini BWI DIY sudah secara resmi menjadi Nazhir Wakaf Uang.

Dokumentasi BWI