Badan Wakaf Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BWI DIY) menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan berhasil masuk sepuluh besar Indeks Wakaf Nasional (IWN) tahun 2026. DIY masuk urutan ke-8 dari 34 provinsi, dengan skor 0,406 dan predikat "Sangat Baik". IWN merupakan alat ukur kinerja BWI daerah yang dilakukan BWI pada setiap tahun. 
Pengumuman hasil IWN, disampaikan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang berlangsung secara daring, 15 s.d 16 Juli 2026. Rakernas dibuka Ketua BWI, Prof.Dr. Kamarudin Amin, diikuti pengurus BWI, BWI Provinsi dan BWI Kabupaten/Kota. Tema Rakernas "Wakaf Berdampak dan Berkelanjutan".
Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf, Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (Bidang Penais Zawa Kanwil Kemenag DIY), H. Nurhuda, S.Ag, M.Si, menyampaikan rasa syukur atas prestasi tersebut. Menurutnya, keberhasilan BWI DIY masuk sepuluh besar nasional merupakan buah dari kolaborasi yang kuat antara Kanwil Kementerian Agama DIY, BWI DIY, Pemerintah Daerah, Kantor ATR/BPN, Nazhir, serta dukungan lembaga dan masyarakat.
Sementara itu, Ketua BWI DIY, H. Misbahrudin, mengatakan prestasi ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh pemangku kepentingan yang selama ini konsisten membangun ekosistem wakaf di DaerahIstimewa Yogyakarta.
"Peringkat kedelapan Indeks Wakaf Nasional merupakan kebanggaan bagi BWI DIY, namun sekaligus menjadi tantangan untuk terus meningkatkan kinerja perwakafan. Kami menyampaikan apresiasi kepada Kanwil Kementerian Agama, Pemerintah Daerah, ATR/BPN, para Nazhir, , serta seluruh masyarakat yang telah bersama-sama membangun gerakan wakaf di DIY" ujar Misbahrudin .
Menurutnya, BWI DIY akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar aset-aset wakaf tidak hanya terlindungi secara hukum, tetapi juga mampu dikelola secara produktif sehingga memberikan manfaat ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan bagi masyarakat.
"Rakernas BWI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam mewujudkan tata kelola wakaf yang profesional, transparan, dan produktif. Target kita bukan sekadar mengejar peringkat, tetapi bagaimana wakaf benar-benar menjadi instrumen pemberdayaan umat dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Momentum Rakernas BWI 2026 juga dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen seluruh jajaran BWI di Indonesia dalam mempercepat transformasi pengelolaan wakaf nasional. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari penguatan kelembagaan, digitalisasi layanan, optimalisasi wakaf produktif, hingga peningkatan kontribusi wakaf terhadap pembangunan ekonomi umat.
Misbahrudin berharap capaian Yogyakarta menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat dalam berwakaf. "Kedepan IWN BWI DIY diharapkan bisa masuk peringkat satu tingkat nasional, atau sekurangnya bisa masuk lima besar", pungkasnya.