Tren pengelolaan wakaf kini tak hanya jadi pembicaraan kalangan pesantren, masjid dan majelis taklim. Kampus Perguruan Tinggi di Yogyakarta menunjukkan minat sangat tinggi untuk mengkaji pengelolaan wakaf sebagai instrumen ekonomi syariah. Bukti nyata datang dari penugasan langsung berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, seperti UGM, UIN, UNY, UII, UMY, UAD, untuk menjadikan Badan Wakaf Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (BWI DIY) sebagai lokus utama penelitian skripsi dan tugas akhir.
Hal tersebut disampaikan Ketua BWI DIY, H. Misbahrudin, saat menerima wawancara penelitian mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin 8 Juni 2026 (22 Dzulhijjah 1447) bertempat di masjid kampus setempat. Dalam sebulan rata-rata ada 2 sampai 3 kelompok mahasiswa yang melakukan penelitian di BWI DIY. "Tema mereka kebanyakan tentang pengelolaan wakaf utamanya wakaf uang dan wakaf produktif,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, BWI DIY menyambut baik tren ini. Penelitian mahasiswa ibarat “radar awal” untuk memetakan potensi dan masalah wakaf di DIY. Hasil penelitian mereka nantinya akan jadi bahan evaluasi program dan modul edukasi untuk penyuluh agama Islam. Langkah ini sejalan dengan target BWI Pusat tahun 2026 yang akan menjadikan 20 PTKIN dan PTS Islam sebagai pusat kajian wakaf. DIY ditarget jadi pilot project karena ekosistem kampus dan pesantrennya paling kuat. Selain itu, tren peminatan penelitian mahasiswa terhadap wakaf akan dapat mendongkrak pemahaman kalangan muda tentang wakaf. Hasil survei HIPMI Syariah DIY tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat literasi wakaf kaum muda masih sangat rendah. "Kami berkeyakinan dengan banyaknya minat mahasiswa melakukan penelitian pengelolaan wakaf, akan mampu mendongkrak literasi wakaf khususnya bagi generasi muda", pungkasnya.